Hujan Bulan Juni
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
(Sapardi Djoko Damono, 1989)
*rasanya aku seperti hujan bulan juni itu, memendam rindu, menahan kata, bahkan untuk sekedar mengatakan aku rindu padamu...
karena mudah sekali mencintaimu, it comes naturally, seperti bernafas..
tapi segala sesuatu ada waktunya.
barangkali sekarang adalah waktu ku untuk menahan diri
karena aku telah melewatkan kesempatanku
untuk bersamamu
tapi jujur saja, masih terselip harapan di benakku
semoga kesempatan itu datang lagi
dan aku tau, saat kesempatan itu datang, tak kan lagi ku lepaskan
semoga...
karena mudah sekali mencintaimu, it comes naturally, seperti bernafas..
tapi segala sesuatu ada waktunya.
barangkali sekarang adalah waktu ku untuk menahan diri
karena aku telah melewatkan kesempatanku
untuk bersamamu
tapi jujur saja, masih terselip harapan di benakku
semoga kesempatan itu datang lagi
dan aku tau, saat kesempatan itu datang, tak kan lagi ku lepaskan
semoga...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar