ternyata, benarlah bahwa manusia adalah makhluk paling egois.
aku sendiri adalah salah satu contoh terburuknya.
serakah dalam menginginkan segala sesuatu.
terutama cinta.
seolah aku selalu kekurangan kasih
kita kadang merasa jumawa
bangga ketika ada lebih dari satu orang yang menginginkan kita
padahal itu hanyalah keegoisan belaka
tak mau kehilangan semuanya, sehingga oh sehingga,
semua ingin dimiliki
meskipun hanya demi sebuah gengsi
sampai akhirnya, keadaan berubah
tak ada yang didapatkan
semua terlepas dari tangan
aku bodoh.
penyesalan memang selalu datang terlambat
ketika semua sudah berlalu, segalanya baru terlihat jelas
kemudian penyesalan datang mengiringi
seumur hidup 28 tahun ku ini
hidupku tidak pernah maksimal
live to the fullest.
bohong.
slogan itu jelas tidak sesuai dengan keadaanku
meskipun aku meletakkannya dalam profil ku, tapi itu
jelas sebuah kebohongan publik.
orang yang mengenalku pasti berkomentar demikian
bohonglah hidupku selama ini
apa yang ku pelajari selama 28 tahun ini?
ya Tuhan, rasanya semuanya sia-sia
tak ada yang tepat di hidupku
tapi rasanya kalau aku mengatakan hal demikian
sama artinya aku bilang Tuhan yang menciptakanku adalah
Tuhan yang bodoh, Tuhan yang tak tau bagaimana
merencanakan hidup anak-anakNya
God knows..
betapa aku memang bodoh
menyia-nyiakan berkat ketika tersedia untukku
kemudian ketika berkat itu sudah hilang, barulah aku kebingungan
mencari berkat yang telah terlewat
benar-benar bodoh
sepanjang aku mulai memiliki kesadaran akan eksistensiku
aku menyesali sebagian besar dari kehidupanku
demikian banyak yang sudah berlalu
tak ada yang bisa diperbaiki lagi
Tuhan tau, tak ada yang bisa...
sekarang, ketika aku menengok lagi waktu yang sudah lalu
jelaslah sudah, segala penyesalan itu benar adanya
saat SD, aku menyesali kenapa aku tidak berusaha sekuat
tenaga waktu itu
kenapa aku tidak ikut berbagai lomba sehingga benar-benar
bisa mengasah kemampuanku, mentalku, bakatku,
entah bakat apapun yang aku miliki
seharusnya aku bisa lebih maksimal di SD
kenapa nilaiku cuma mentok di angka 7
tidak bisa 8 atau 9, atau bahkan 10
kenapa aku tidak begadang atau melakukan usaha maksimal
untuk meraih yang tertinggal
aku ingat, aku tidak benar-benar berusaha maksimal
aku tidak pernah ikut lomba
aku tidak pernah punya cukup keberanian untuk mengacungkan jariku
mengajukan diri
dibentak sedikit saja, aku sudah menangis
betapa cengengnya waktu itu
sekarang pun masih
begitu mudah air mata ku mengalir
tanpa sebab yang jelas
akhirnya, aku selesai menjalani SD ku
dengan nilai cukup lah, tapi tidak outstanding
padahal seharusnya aku bisa
outstanding
seharusnya nilaiku 8 atau 9
tidak cukup hanya 7
tak punya keberanian
lalu di SMP, aku mulai ikut berbagai kegiatan
ikut paduan suara
ikut pramuka
ikut persekutuan siswa
tapi tetap saja, aku merasa hidupku tidak maksimal
aku suka pada teman sekelasku selama 3 tahun,
tapi aku pun tak berani bilang apa-apa
bahkan sampai lulus, rasa itu mengendap begitu saja,
tak pernah terungkap
di SMP, keberanianku tetap belum muncul
belum cukup banyak untuk mengantarku ikut berbagai lomba
aku tak pernah mengikuti lomba apa pun
sehingga mentalku tak pernah terasah
penakut
bahkan bicara di depan kelaspun
aku tak punya keberanian
akhirnya, SMP pun berakhir dengan biasa saja
lulus, nilai cukup, tidak outstanding
ketika kemudian aku masuk SMK, dengan berbagai pertimbangan
aku mulai bandel
mulai merasa pemberani
meskipun tidak cukup untuk membawa sekolahku meraih juara
nilaiku cukup baik
tapi sama, tidak outstanding
di SMK aku mulai mengenal komputer
alat ajaib yang membangkitkan minatku secara mendalam
tapi tak pernah tereksplor dengan baik
tak didukung dengan fasilitas yang memadai pula
jadilah itu hanya hobi
tak pernah bisa didalami dengan serius
seharusnya, aku bisa lebih dari itu
seharusnya, pikiranku sudah berjalan,
dan mulai memikirkan masa depan dengan serius
seharusnya, aku tau apa yang harus ku pilih
jalan yang mana
menjadi apa
aku hanyalah gadis penakut, pemalu
yang begitu di goda sedikit saja
langsung seperti udang rebus
merah padam lah mukaku
aku tak berani berkencan
padahal temanku bisa
bodohnya aku.
penyesalan yang selanjutnya
ketika kemudian aku mengalami keajaiban dengan masuk di
universitas tanpa tes
aku memiliki keberanian yang lebih
padahal kenyataannya adalah, aku tak punya apa-apa
bahkan, aku tak punya mimpi
apa yang akan ku kerjakan nanti
sampai di sini aku yakin
Tuhan mampu berbuat apapun untuk hidupku
sekarang pun aku tetap yakin
hanya saja, keajaiban itu belum datang lagi
penyesalanku di kuliah adalah bahwa aku tidak menjalaninya
dengan serius
bahwa aku tidak menganggap nya cukup penting
dan cenderung menganggap enteng.
bukti lain betapa bodohnya aku
menyia-nyiakan waktu, aku sibuk menikmati statusku sebagai
mahasiswa,
sepertinya menyenangkan, tapi belakangan aku sadar
hal ini tidak seperti yang terlihat
kosong belaka
aku tidak belajar apa-apa
penyesalan lagi.
bahkan juga soal cinta
ketika aku mulai mengenalnya, aku senang
tapi tetap saja, aku tidak belajar apa-apa
hanya menikmati sensasi
aku tidak memahami
apa artinya
apa maknanya
hingga kemudian dia pergi
waktu dan jarak memisahkan kami
hanya meninggalkan kenangan
waktu berlalu, aku mulai mendapatkan pekerjaan
dengan berbagai alasan, aku semakin sibuk
bekerja, berkegiatan, di sini, di sana
aku terlena
padahal waktu tak menunggu
dia terus saja berjalan
dan disanalah aku, stress dengan deadline harus lulus
kemudian, ada seseorang lagi
bukti lain yang menegaskan betapa aku seorang yang egois
seseorang yang tak ingin ku lepaskan
hanya karena keegoisan
hanya karena aku membutuhkan
karena dia mau menampung segala keluh kesahku
karena dia mau mendengarkan
karena dia mau memperhatikan
belakangan, aku sadar
betapa jahatnya aku
tak bisa membalas kasihnya, hanya memanfaatkan
akhirnya kami berpisah,
aku menyakiti nya
dia terluka, aku juga
dengan menyisakan luka
menyisakan kepedihan
tambahan bukti bahwa aku manusia bodoh.
daftar penyesalanku yang lain
masih terus berlanjut
seolah aku benar-benar tak pernah belajar apa pun
dari segala kejadian di hidupku
aku melakukan kesalahan lain lagi
padahal ada sahabatku, endah yang baik
yang mendorong dan menolong untuk terus maju
akhirnya, kami lulus
meskipun terlambat, tapi kami lulus
endah bekerja dengan baik, berusaha untuk maju.
sampai akhirnya dia bertemu kekasihnya, dia terus berusaha
menjalani hidup sebaik-sebaiknya
tak tersia-sia
sementara aku,
bekerja di bidang pendidikan, di instansi formal
ternyata tidak terlalu membangkitkan motivasiku untuk
maksimal
pekerjaanku biasa saja, tak terlalu menantang
padahal seharusnya,
kalau aku mau lebih berusaha
hasilnya bisa lebih baik
aku hanya melakukan sekedarnya
sampai sekarang
waktu terus berlalu
sekarang, aku dikejarnya dengan satu kata
menikah
berbagai harapan dari semua orang
tapi bukan harapanku
harapan ibuku..
beberapa waktu setelah kelulusanku, aku bertemu seseorang
cinta kembali menyapa
entah, cinta atau bukan
mungkin, aku memang tak pernah belajar
bersamanya, aku merasa nyaman
namun, seiring waktu berjalan, kenyamanan itu tergantikan
dengan kenyataan yang tak sejalan
hubungan kami tak berjalan baik
aku tak memahami dengan baik
sepertinya, kami tak mengenal satu sama lain dengan baik
selesai sudah
kami tak lagi bersama
betapa aku merasa
terkhianati oleh harapan yang tak bisa terwujud
harapan yang menyakitkan
sekali lagi, hanya menyisakan luka
tapi kali ini, lukanya lebih sulit sembuh
pedih dan perih yang ada
bukti kebodohanku yang lain
aku menyakiti orang lain lagi.
sakit hati lagi.
bodoh.
apa yang aku cari sebenarnya?
apa yang aku butuhkan?
kenapa semuanya harus berakhir menyakitkan?
mungkin, aku takut
menjalin hubungan dengan orang lain
aku takut terluka
tapi kemudian ternyata aku yang melukai
dan akhirnya, ikut terluka juga
padahal, mungkin
aku hanya mencari cinta
mencari kasih
mencari kasih ayahku
kemudian,
ada kesadaran lain yang muncul akhir-akhir ini
menemukanmu
om ku tersayang.
aku lupa sejak kapan aku memanggilmu om
tapi, rasanya panggilan om itu lebih istimewa
lebih dekat
membuatku merasa dekat denganmu
tapi, sepertinya kamu lebih nyaman dengan panggilan lain
ya sudahlah
kamu,
seseorang yang selama ini selalu ada,
dekat, tapi tak terasa.
karena terbiasa
kenapa tidak dari dulu kesadaran ini datang,
ibuku sayang padamu
bapak bisa menerimamu
adik-adiku juga bisa menerimamu
keluargamu juga keluarga yang baik
menyenangkan seandainya..
tapi sudahlah,
yang ada hanyalah penyesalan yang lain
dengan serangkaian kata seandainya...
seandainya...
seandainya...
seandainya...
sekarang, sudah terlambat
kamu sudah menemukan orang lain
aku melihat matamu berbinar ketika membicarakannya
aku melihatmu bahagia
aku melihatmu berharap
jadi, sekarang mungkin saat yang tepat
aku benar-benar harus memperhatikan pelajaranku
mengikis keegoisanku
tak boleh lagi serakah menginginkan semuanya
aku harus melepasmu
untuk bahagiamu
barangkali, sepuluh tahun yang akan datang
ketika aku melihat lagi masa sekarang,
yang ada hanyalah penyesalan lagi,
seandainya..
tapi aku tak bisa hidup dalam pengandaian,
hidup ini nyata
senyata daging dan darah dalam tubuhku
senyata air mata yang mengalir dari mataku
betapa pun aku menghapusnya, tetap mengalir lagi
heran, betapa banyak aku membuangnya
tetap saja ada
aku capek menangis terus
sekarang,
aku benar-benar harus melepasmu, mas
tidak boleh lagi merepotkanmu dengan hal-hal remeh
tidak boleh lagi mengharapkan menjadi yang istimewa bagimu
tidak boleh menjadi egois
mungkin,
kalau benar-benar aku sudah tidak bisa menghadapi semuanya
aku akan pergi
mencari tempatku
barangkali jogja menjadi tujuanku
sambil membawa harapan
tak akan membuat penyesalan lagi
tak akan membuat sakit hati lagi
mencoba tidak menjadi bodoh lagi
mencoba bijaksana.
semoga bisa. pasti bisa.
jangan mengkhawatirkan aku, oke?
aku pasti baik-baik saja.
kamu, salah satu orang yang membuatku berpikir bahwa
mungkin tidak semua laki-laki tidak baik
mungkin, masih ada yang bisa diharapkan
aku tau kamu akan menjadi bapak yang baik
tidak seperti bapakku
jadi, aku tau, anak-anakmu nanti tak akan kekurangan
tak akan kekurangan kasih dari ayahnya
mereka akan bangga
aku juga akan bangga
sekarang pun aku bangga padamu
kamu berubah
menjadi lebih baik
menjadi laki-laki yang baik
sangat menyenangkan bisa mengenalmu, mas
melihat perkembanganmu
memperhatikan perubahanmu
sikap dan karaktermu
dan aku berharap, kamu juga bahagia
jangan pernah minder
manusiawi jika kita minder dengan keadaan kita
tapi menurutku, kamu punya segala hal yang seharusnya
membuatmu bangga, berdiri dengan gagah, percaya diri.
kamu punya Yesus, segalanya..
berbahagialah...
terwujudlah harapanmu.
jangan hidup dalam penyesalann
sudah saatnya, aku melepaskan diri
seperti katamu,
berpikir positif.
Tuhan pasti punya rencana cadangan untukku, kan :)
DIA sayang padaku
seperti DIA sayang padamu
terima kasih untuk semuanya
untuk kasihmu padaku
untuk penghiburanmu
harapan terbaikku untukmu, mas.
berbahagialah.
aku sayang padamu.
aku sendiri adalah salah satu contoh terburuknya.
serakah dalam menginginkan segala sesuatu.
terutama cinta.
seolah aku selalu kekurangan kasih
kita kadang merasa jumawa
bangga ketika ada lebih dari satu orang yang menginginkan kita
padahal itu hanyalah keegoisan belaka
tak mau kehilangan semuanya, sehingga oh sehingga,
semua ingin dimiliki
meskipun hanya demi sebuah gengsi
sampai akhirnya, keadaan berubah
tak ada yang didapatkan
semua terlepas dari tangan
aku bodoh.
penyesalan memang selalu datang terlambat
ketika semua sudah berlalu, segalanya baru terlihat jelas
kemudian penyesalan datang mengiringi
seumur hidup 28 tahun ku ini
hidupku tidak pernah maksimal
live to the fullest.
bohong.
slogan itu jelas tidak sesuai dengan keadaanku
meskipun aku meletakkannya dalam profil ku, tapi itu
jelas sebuah kebohongan publik.
orang yang mengenalku pasti berkomentar demikian
bohonglah hidupku selama ini
apa yang ku pelajari selama 28 tahun ini?
ya Tuhan, rasanya semuanya sia-sia
tak ada yang tepat di hidupku
tapi rasanya kalau aku mengatakan hal demikian
sama artinya aku bilang Tuhan yang menciptakanku adalah
Tuhan yang bodoh, Tuhan yang tak tau bagaimana
merencanakan hidup anak-anakNya
God knows..
betapa aku memang bodoh
menyia-nyiakan berkat ketika tersedia untukku
kemudian ketika berkat itu sudah hilang, barulah aku kebingungan
mencari berkat yang telah terlewat
benar-benar bodoh
sepanjang aku mulai memiliki kesadaran akan eksistensiku
aku menyesali sebagian besar dari kehidupanku
demikian banyak yang sudah berlalu
tak ada yang bisa diperbaiki lagi
Tuhan tau, tak ada yang bisa...
sekarang, ketika aku menengok lagi waktu yang sudah lalu
jelaslah sudah, segala penyesalan itu benar adanya
saat SD, aku menyesali kenapa aku tidak berusaha sekuat
tenaga waktu itu
kenapa aku tidak ikut berbagai lomba sehingga benar-benar
bisa mengasah kemampuanku, mentalku, bakatku,
entah bakat apapun yang aku miliki
seharusnya aku bisa lebih maksimal di SD
kenapa nilaiku cuma mentok di angka 7
tidak bisa 8 atau 9, atau bahkan 10
kenapa aku tidak begadang atau melakukan usaha maksimal
untuk meraih yang tertinggal
aku ingat, aku tidak benar-benar berusaha maksimal
aku tidak pernah ikut lomba
aku tidak pernah punya cukup keberanian untuk mengacungkan jariku
mengajukan diri
dibentak sedikit saja, aku sudah menangis
betapa cengengnya waktu itu
sekarang pun masih
begitu mudah air mata ku mengalir
tanpa sebab yang jelas
akhirnya, aku selesai menjalani SD ku
dengan nilai cukup lah, tapi tidak outstanding
padahal seharusnya aku bisa
outstanding
seharusnya nilaiku 8 atau 9
tidak cukup hanya 7
tak punya keberanian
lalu di SMP, aku mulai ikut berbagai kegiatan
ikut paduan suara
ikut pramuka
ikut persekutuan siswa
tapi tetap saja, aku merasa hidupku tidak maksimal
aku suka pada teman sekelasku selama 3 tahun,
tapi aku pun tak berani bilang apa-apa
bahkan sampai lulus, rasa itu mengendap begitu saja,
tak pernah terungkap
di SMP, keberanianku tetap belum muncul
belum cukup banyak untuk mengantarku ikut berbagai lomba
aku tak pernah mengikuti lomba apa pun
sehingga mentalku tak pernah terasah
penakut
bahkan bicara di depan kelaspun
aku tak punya keberanian
akhirnya, SMP pun berakhir dengan biasa saja
lulus, nilai cukup, tidak outstanding
ketika kemudian aku masuk SMK, dengan berbagai pertimbangan
aku mulai bandel
mulai merasa pemberani
meskipun tidak cukup untuk membawa sekolahku meraih juara
nilaiku cukup baik
tapi sama, tidak outstanding
di SMK aku mulai mengenal komputer
alat ajaib yang membangkitkan minatku secara mendalam
tapi tak pernah tereksplor dengan baik
tak didukung dengan fasilitas yang memadai pula
jadilah itu hanya hobi
tak pernah bisa didalami dengan serius
seharusnya, aku bisa lebih dari itu
seharusnya, pikiranku sudah berjalan,
dan mulai memikirkan masa depan dengan serius
seharusnya, aku tau apa yang harus ku pilih
jalan yang mana
menjadi apa
aku hanyalah gadis penakut, pemalu
yang begitu di goda sedikit saja
langsung seperti udang rebus
merah padam lah mukaku
aku tak berani berkencan
padahal temanku bisa
bodohnya aku.
penyesalan yang selanjutnya
ketika kemudian aku mengalami keajaiban dengan masuk di
universitas tanpa tes
aku memiliki keberanian yang lebih
padahal kenyataannya adalah, aku tak punya apa-apa
bahkan, aku tak punya mimpi
apa yang akan ku kerjakan nanti
sampai di sini aku yakin
Tuhan mampu berbuat apapun untuk hidupku
sekarang pun aku tetap yakin
hanya saja, keajaiban itu belum datang lagi
penyesalanku di kuliah adalah bahwa aku tidak menjalaninya
dengan serius
bahwa aku tidak menganggap nya cukup penting
dan cenderung menganggap enteng.
bukti lain betapa bodohnya aku
menyia-nyiakan waktu, aku sibuk menikmati statusku sebagai
mahasiswa,
sepertinya menyenangkan, tapi belakangan aku sadar
hal ini tidak seperti yang terlihat
kosong belaka
aku tidak belajar apa-apa
penyesalan lagi.
bahkan juga soal cinta
ketika aku mulai mengenalnya, aku senang
tapi tetap saja, aku tidak belajar apa-apa
hanya menikmati sensasi
aku tidak memahami
apa artinya
apa maknanya
hingga kemudian dia pergi
waktu dan jarak memisahkan kami
hanya meninggalkan kenangan
waktu berlalu, aku mulai mendapatkan pekerjaan
dengan berbagai alasan, aku semakin sibuk
bekerja, berkegiatan, di sini, di sana
aku terlena
padahal waktu tak menunggu
dia terus saja berjalan
dan disanalah aku, stress dengan deadline harus lulus
kemudian, ada seseorang lagi
bukti lain yang menegaskan betapa aku seorang yang egois
seseorang yang tak ingin ku lepaskan
hanya karena keegoisan
hanya karena aku membutuhkan
karena dia mau menampung segala keluh kesahku
karena dia mau mendengarkan
karena dia mau memperhatikan
belakangan, aku sadar
betapa jahatnya aku
tak bisa membalas kasihnya, hanya memanfaatkan
akhirnya kami berpisah,
aku menyakiti nya
dia terluka, aku juga
dengan menyisakan luka
menyisakan kepedihan
tambahan bukti bahwa aku manusia bodoh.
daftar penyesalanku yang lain
masih terus berlanjut
seolah aku benar-benar tak pernah belajar apa pun
dari segala kejadian di hidupku
aku melakukan kesalahan lain lagi
padahal ada sahabatku, endah yang baik
yang mendorong dan menolong untuk terus maju
akhirnya, kami lulus
meskipun terlambat, tapi kami lulus
endah bekerja dengan baik, berusaha untuk maju.
sampai akhirnya dia bertemu kekasihnya, dia terus berusaha
menjalani hidup sebaik-sebaiknya
tak tersia-sia
sementara aku,
bekerja di bidang pendidikan, di instansi formal
ternyata tidak terlalu membangkitkan motivasiku untuk
maksimal
pekerjaanku biasa saja, tak terlalu menantang
padahal seharusnya,
kalau aku mau lebih berusaha
hasilnya bisa lebih baik
aku hanya melakukan sekedarnya
sampai sekarang
waktu terus berlalu
sekarang, aku dikejarnya dengan satu kata
menikah
berbagai harapan dari semua orang
tapi bukan harapanku
harapan ibuku..
beberapa waktu setelah kelulusanku, aku bertemu seseorang
cinta kembali menyapa
entah, cinta atau bukan
mungkin, aku memang tak pernah belajar
bersamanya, aku merasa nyaman
namun, seiring waktu berjalan, kenyamanan itu tergantikan
dengan kenyataan yang tak sejalan
hubungan kami tak berjalan baik
aku tak memahami dengan baik
sepertinya, kami tak mengenal satu sama lain dengan baik
selesai sudah
kami tak lagi bersama
betapa aku merasa
terkhianati oleh harapan yang tak bisa terwujud
harapan yang menyakitkan
sekali lagi, hanya menyisakan luka
tapi kali ini, lukanya lebih sulit sembuh
pedih dan perih yang ada
bukti kebodohanku yang lain
aku menyakiti orang lain lagi.
sakit hati lagi.
bodoh.
apa yang aku cari sebenarnya?
apa yang aku butuhkan?
kenapa semuanya harus berakhir menyakitkan?
mungkin, aku takut
menjalin hubungan dengan orang lain
aku takut terluka
tapi kemudian ternyata aku yang melukai
dan akhirnya, ikut terluka juga
padahal, mungkin
aku hanya mencari cinta
mencari kasih
mencari kasih ayahku
kemudian,
ada kesadaran lain yang muncul akhir-akhir ini
menemukanmu
om ku tersayang.
aku lupa sejak kapan aku memanggilmu om
tapi, rasanya panggilan om itu lebih istimewa
lebih dekat
membuatku merasa dekat denganmu
tapi, sepertinya kamu lebih nyaman dengan panggilan lain
ya sudahlah
kamu,
seseorang yang selama ini selalu ada,
dekat, tapi tak terasa.
karena terbiasa
kenapa tidak dari dulu kesadaran ini datang,
ibuku sayang padamu
bapak bisa menerimamu
adik-adiku juga bisa menerimamu
keluargamu juga keluarga yang baik
menyenangkan seandainya..
tapi sudahlah,
yang ada hanyalah penyesalan yang lain
dengan serangkaian kata seandainya...
seandainya...
seandainya...
seandainya...
sekarang, sudah terlambat
kamu sudah menemukan orang lain
aku melihat matamu berbinar ketika membicarakannya
aku melihatmu bahagia
aku melihatmu berharap
jadi, sekarang mungkin saat yang tepat
aku benar-benar harus memperhatikan pelajaranku
mengikis keegoisanku
tak boleh lagi serakah menginginkan semuanya
aku harus melepasmu
untuk bahagiamu
barangkali, sepuluh tahun yang akan datang
ketika aku melihat lagi masa sekarang,
yang ada hanyalah penyesalan lagi,
seandainya..
tapi aku tak bisa hidup dalam pengandaian,
hidup ini nyata
senyata daging dan darah dalam tubuhku
senyata air mata yang mengalir dari mataku
betapa pun aku menghapusnya, tetap mengalir lagi
heran, betapa banyak aku membuangnya
tetap saja ada
aku capek menangis terus
sekarang,
aku benar-benar harus melepasmu, mas
tidak boleh lagi merepotkanmu dengan hal-hal remeh
tidak boleh lagi mengharapkan menjadi yang istimewa bagimu
tidak boleh menjadi egois
mungkin,
kalau benar-benar aku sudah tidak bisa menghadapi semuanya
aku akan pergi
mencari tempatku
barangkali jogja menjadi tujuanku
sambil membawa harapan
tak akan membuat penyesalan lagi
tak akan membuat sakit hati lagi
mencoba tidak menjadi bodoh lagi
mencoba bijaksana.
semoga bisa. pasti bisa.
jangan mengkhawatirkan aku, oke?
aku pasti baik-baik saja.
kamu, salah satu orang yang membuatku berpikir bahwa
mungkin tidak semua laki-laki tidak baik
mungkin, masih ada yang bisa diharapkan
aku tau kamu akan menjadi bapak yang baik
tidak seperti bapakku
jadi, aku tau, anak-anakmu nanti tak akan kekurangan
tak akan kekurangan kasih dari ayahnya
mereka akan bangga
aku juga akan bangga
sekarang pun aku bangga padamu
kamu berubah
menjadi lebih baik
menjadi laki-laki yang baik
sangat menyenangkan bisa mengenalmu, mas
melihat perkembanganmu
memperhatikan perubahanmu
sikap dan karaktermu
dan aku berharap, kamu juga bahagia
jangan pernah minder
manusiawi jika kita minder dengan keadaan kita
tapi menurutku, kamu punya segala hal yang seharusnya
membuatmu bangga, berdiri dengan gagah, percaya diri.
kamu punya Yesus, segalanya..
berbahagialah...
terwujudlah harapanmu.
jangan hidup dalam penyesalann
sudah saatnya, aku melepaskan diri
seperti katamu,
berpikir positif.
Tuhan pasti punya rencana cadangan untukku, kan :)
DIA sayang padaku
seperti DIA sayang padamu
terima kasih untuk semuanya
untuk kasihmu padaku
untuk penghiburanmu
harapan terbaikku untukmu, mas.
berbahagialah.
aku sayang padamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar